Kenapa sih THR sering telat atau dipotong, dan gimana ngadepinnya?
Tiap mau Lebaran deg-degan THR cair apa nggak. Tahun lalu THR saya telat dan dipotong sepihak katanya perusahaan lagi susah. Sebenernya kenapa sih ini sering kejadian, dan apa yang bisa kita lakuin?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·181 orang sudah melihat·4 jawaban
AAnakTeknik_GilangPemulaPengalaman nyataAnak teknik yang sok tahu soal gadget, sering asal comment padahal cuma baca judul.
Saya pernah kerja di HR perusahaan kecil, jadi tahu dari dalam. THR itu wajib menurut aturan, harus dibayar penuh paling lambat 7 hari sebelum hari raya buat yang udah kerja setahun lebih. Yang di bawah setahun dihitung proporsional. Masalahnya perusahaan kecil sering cashflow-nya berantakan, uang THR nggak disiapin dari jauh hari, jadi pas mepet mereka panik lalu nyicil atau motong. Itu sebenarnya melanggar. Kalau kena, langkah pertama tanya baik-baik ke manajemen dan minta hitam di atas putih soal kapan dibayar. Kalau tetap dilanggar, kamu bisa lapor ke posko THR Kemnaker yang selalu dibuka tiap menjelang Lebaran, atau ke Dinas Tenaga Kerja setempat. Simpan bukti slip gaji dan kontrak. Banyak yang takut lapor karena takut dipecat, tapi hak kamu dilindungi undang-undang.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Realita di lapangan, banyak teman saya milih diam walau THR dipotong karena butuh kerjaannya. Saya nggak nyalahin, ekonomi lagi susah. Tapi dari pengalaman, diam terus juga bikin perusahaan makin ngelunjak tiap tahun. Saya akhirnya berani ngomong bareng beberapa rekan, kami ajukan bersama, bukan sendiri-sendiri. Ramai-ramai lebih aman dan lebih didengar daripada satu orang. Tahun berikutnya THR cair tepat waktu. Solidaritas antar karyawan itu penting. Kalau memang belum berani lapor resmi, minimal minta pernyataan tertulis dari atasan soal kapan sisa THR dibayar. Bukti niat baik tertulis itu lebih baik daripada janji lisan yang gampang diingkari pas kamu udah lupa. Solidaritas antar rekan juga membantu, karena mengajukan bersama biasanya lebih didengar daripada satu orang bersuara sendirian.
TTKW_Mbak PainemPemulaPengalaman nyataKerja jadi ART di Hong Kong bertahun-tahun, paham kontrak, kirim uang, dan hidup di rantau.
Perlu diluruskan, THR beda dengan bonus. THR itu kewajiban hukum, bonus itu kebijakan. Banyak bos nyampur aduk dua ini biar bisa motong. Kalau bos bilang THR digabung sama bonus kinerja jadi bisa dikurangi kalau kinerja jelek, itu keliru. THR keagamaan tetap wajib penuh sesuai masa kerja, nggak peduli kinerja. Pahami bedanya biar kamu nggak gampang dibohongi pakai istilah. Simpan slip gaji dan salinan kontrak kerja kamu baik-baik sebagai bukti hak. Kalau perusahaan tetap ngeyel, bukti tertulis inilah yang bikin laporan kamu ke Dinas Tenaga Kerja punya dasar kuat dan susah dibantah. Jangan takut dicap cerewet, karena menuntut hak yang dijamin undang-undang itu wajar dan bukan sesuatu yang perlu kamu malukan.
AAbangKuliner_DekaPemulaPengalaman nyataBuka kedai kopi kekinian, doyan blusukan cari jajanan enak dan murah di gang-gang.
Pelajaran keuangan pribadi dari kejadian ini: jangan pernah masukin THR dalam anggaran pasti sebelum uangnya beneran masuk rekening. Saya dulu udah pesan tiket mudik dan beli ini itu ngandelin THR, eh telat, jadi kelabakan. Sekarang THR saya anggap bonus, bukan pemasukan pasti. Kebutuhan Lebaran saya siapin dari tabungan bulanan kecil-kecilan sepanjang tahun. Jadi kalaupun THR telat, saya nggak panik. Saya juga bikin pos khusus tabungan Lebaran yang saya isi otomatis tiap gajian sepanjang tahun. Jadi kebutuhan mudik, baju, dan angpau keponakan udah aman dari jauh hari tanpa gantung nunggu THR yang belum tentu tepat waktu. Dengan begitu momen Lebaran tetap bisa dinikmati tenang tanpa panik walau pencairan dari kantor meleset dari jadwal.