Apa aja yang baru kamu sadari soal kerja di luar negeri setelah balik ke Indonesia?
Lagi nimbang kerja ke luar negeri beberapa tahun buat ngumpulin modal. Tapi penasaran gimana pandangan orang setelah balik. Buat yang udah pernah kerja di luar lalu pulang, apa aja yang baru kalian sadari?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·438 orang sudah melihat·4 jawaban
TTravelerRansel_DoniPemulaPengalaman nyataBackpacker keliling Indonesia modal ransel, hafal spot murah dan transport lokal.
Saya kerja 6 tahun di Timur Tengah lalu balik, dan ini yang baru saya sadari. Pertama, uang yang dikumpulin cepat habis kalau nggak ada rencana. Banyak teman perantau termasuk saya awalnya, pulang bawa tabungan lalu habis buat konsumtif, rumah mewah, mobil, tanpa bikin sumber penghasilan baru. Dalam beberapa tahun ludes dan bingung mau ngapain. Yang cerdas itu yang sejak di luar udah rencanain modal usaha atau aset produktif. Kedua, adaptasi balik ke Indonesia juga culture shock terbalik, saya kaget sama ritme kerja dan gaji lokal yang jauh lebih kecil. Ketiga, keluarga berubah selama kamu pergi, anak tumbuh tanpa kamu, dan itu ada harganya yang nggak keganti uang. Keempat, skill dan pengalaman luar negeri itu aset kalau dimanfaatin, saya sekarang buka usaha yang pakai pengalaman kerja saya di sana. Saran saya, kerja di luar itu bagus buat modal, tapi wajib punya rencana jelas mau ngapain pas balik. Tanpa rencana, pengorbanan bertahun bisa sia-sia.
IIbuKostan_Bu MarniPemulaPengalaman nyataPunya rumah kost dua puluh kamar, hafal drama anak kost dan cara pilih penghuni baik.
Sisi positif yang mau saya angkat biar seimbang. Kerja di luar negeri ngubah cara pandang saya secara permanen dan itu berharga. Saya jadi lebih disiplin, lebih menghargai waktu, dan lebih percaya diri karena pernah bertahan hidup mandiri di negeri asing dengan bahasa asing. Wawasan saya kebuka soal etos kerja dan standar yang lebih tinggi. Modal uang penting, tapi buat saya modal mental dan cara pandang ini yang paling berharga dan saya bawa ke usaha saya sekarang. Jadi kalau kamu pergi, serap ilmunya, bukan cuma kejar uangnya. Pengalaman itu yang nggak bisa diambil siapa pun pas kamu balik. Jadi saran saya, perlakukan waktu di luar negeri sebagai sekolah kehidupan, bukan cuma mesin uang. Uang bisa habis, tapi disiplin, wawasan, dan mental tangguh yang kamu bawa pulang itu modal yang nemenin kamu seumur hidup.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Yang paling menampar saya setelah balik, harga waktu bersama keluarga. Saya pergi pas anak masih balita, pulang dia udah sekolah dan lebih deket sama neneknya daripada saya. Uang yang saya kirim memang bikin mereka hidup lebih baik, tapi ada jarak emosional yang butuh waktu lama buat dijembatani. Saya nggak menyesal karena memang butuh, tapi saya mau calon perantau tahu ini bagian dari harga yang dibayar. Kalau memutuskan pergi, jaga komunikasi rutin dengan keluarga, video call sesering mungkin, biar ikatan nggak putus. Uang bisa dicari lagi, momen tumbuh anak nggak bisa diulang. Timbang ini masak-masak. Jadi kalau kamu memutuskan pergi, rawat ikatan itu dengan video call rutin dan hadir sebisanya lewat jarak. Uang memang penting buat keluarga, tapi kehadiran emosional yang konsisten itu yang bikin hubungan nggak retak selama kamu jauh.
PPsikologKlinis_Bu SintaPemulaPengalaman nyataPsikolog klinis praktik sepuluh tahun, bantu banyak orang atasi cemas dan burnout.
Yang baru saya sadari, susah balik ke dunia kerja lokal setelah lama di luar. Saya kira pengalaman luar negeri bakal bikin saya rebutan perusahaan, ternyata banyak yang malah ragu karena gaji ekspektasi saya dianggap ketinggian atau skill saya nggak nyambung sama kebutuhan lokal. Ada gap yang harus dijembatani. Saran saya, jangan putus update sama perkembangan di Indonesia selama di luar, jaga jejaring, dan kalau bisa kumpulin sertifikasi atau skill yang laku di pasar lokal juga. Atau lebih baik, siapkan jalur wirausaha biar nggak bergantung diterima kerja. Reintegrasi itu tantangan nyata yang jarang diomongin. Jadi selama di luar, saya sarankan jaga koneksi profesional di Indonesia dan pantau perkembangan industrinya. Menjembatani gap itu jauh lebih mudah kalau kamu nggak benar-benar putus dari pasar kerja tanah air selama bertahun-tahun di rantau.