Gimana rasanya jadi bapak rumah tangga sementara istri yang kerja?
Karena penghasilan istri lebih besar dan stabil, kami mutusin saya yang di rumah urus anak sementara dia kerja. Masih ragu sama omongan orang. Buat yang udah jalanin peran ini, gimana rasanya?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·294 orang sudah melihat·4 jawaban
IITenjoyer_2003PemulaPengalaman nyataKerja IT support, hobi ngoprek gadget, sering ditanya soal HP mana yang worth it.
Saya udah 3 tahun jadi bapak rumah tangga, istri kerja di perusahaan farmasi. Awalnya berat mentalnya, bukan capeknya. Capek ngurus anak dan rumah itu biasa, yang berat omongan orang. Tetangga nanya kok nggak kerja, keluarga nyindir masa laki-laki di rumah. Saya sempat minder parah. Tapi lama-lama saya sadar, saya bukan pengangguran, saya ngerjain kerjaan yang kalau di-outsource ke ART dan daycare mahal banget. Anak saya tumbuh deket sama saya, itu nggak ternilai. Kuncinya adalah kesepakatan berdua yang kuat dan cuek sama komentar luar. Istri saya selalu hargai dan nggak pernah nganggap saya lebih rendah. Sekarang saya bangga, saya ayah yang hadir tiap tumbuh kembang anak. Peran gender itu buatan sosial, yang penting rumah tangga jalan dan anak bahagia.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Saya jalanin ini setahun lalu balik kerja, jadi biar seimbang saya cerita sisi susahnya. Buat saya secara pribadi, terlalu lama di rumah bikin saya kehilangan identitas dan koneksi. Saya jadi jarang ketemu orang dewasa, obrolan cuma soal popok dan masak. Mental saya drop, saya ngerasa tertinggal dari teman-teman yang kariernya lari. Akhirnya kami atur ulang, istri kerja dan saya cari kerja remote paruh waktu biar tetap punya dunia sendiri sambil bantu urus anak. Jadi buat sebagian orang peran full di rumah cocok, buat sebagian lain nggak. Kenali diri kamu, jangan paksa kalau bikin kamu hampa. Jadi saran saya, jujur sama diri sendiri soal apa yang bikin kamu waras, jangan ikut standar orang. Nggak ada susunan yang benar buat semua keluarga, yang penting kalian berdua sama-sama tumbuh dan nggak ada yang merasa hampa.
MMahasiswaHukum_RezaPemulaPengalaman nyataMahasiswa hukum yang suka bahas kasus, sering bantu jelasin aturan pakai bahasa gampang.
Saran keuangan penting buat yang ambil peran ini. Karena saya nggak berpenghasilan, kami sepakat saya tetap dapat uang pribadi dari penghasilan istri, bukan minta tiap butuh. Itu jaga harga diri. Kami juga tetap masukin saya di BPJS dan bikin dana darurat atas nama bersama. Yang bahaya kalau pasangan yang di rumah nggak punya jaring pengaman sama sekali, misal kalau terjadi apa-apa sama yang kerja. Jadi urus asuransi jiwa buat yang kerja, dan pastikan yang di rumah tetap punya akses keuangan. Kesetaraan itu juga soal uang, bukan cuma peran. Kami juga tetap sisihkan tabungan atas nama saya sendiri, biar ada rasa aman dan mandiri walau nggak berpenghasilan tetap. Kesetaraan dalam rumah tangga itu bukan cuma soal peran, tapi juga soal akses dan kendali atas keuangan bersama.
PPerawatRS_DewiPemulaPengalaman nyataPerawat rumah sakit sepuluh tahun, sering ngingetin orang jangan asal percaya info kesehatan.
Yang mau saya tekankan, keputusan ini harus beneran sepakat berdua, bukan salah satu ngalah terpaksa. Teman saya ambil peran ini karena istrinya maksa, dalam hati dia nggak rela, dan itu jadi bom waktu, sering berantem karena dia merasa dikebiri. Kalau kalian berdua tulus sepakat, ini indah. Ngobrol jujur soal ekspektasi, pembagian tugas, dan bagaimana kalian ngadepin omongan keluarga. Sepakat di awal nyelametin banyak konflik nanti. Ngobrol juga soal pembagian tugas yang jelas dan bagaimana kalian saling menghargai peran masing-masing. Peran di rumah itu kerja nyata yang melelahkan, dan pengakuan dari pasangan bikin yang menjalani nggak merasa dianggap remeh. Sepakat sejak awal soal hal-hal ini bikin peran yang tidak biasa ini justru jadi kekuatan rumah tangga, bukan sumber gesekan.