Burnout kerja WFH, rasanya kerja nggak ada habisnya dan hampa
Kerja remote udah 2 tahun. Awalnya senang bebas, sekarang malah merasa kerja 24 jam, susah berhenti, dan makin hari makin hampa dan nggak bersemangat. Kadang cuma bengong depan laptop. Ini burnout ya? Gimana ngatasinnya?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·642 orang sudah melihat·4 jawaban
Halaman ini berisi pengalaman pribadi pengguna soal Fisik & mental, bukan nasihat profesional. Untuk keputusan penting, konsultasikan ke tenaga profesional bersertifikat atau kanal resmi.
KKaryawanBank_DodiPemulaPengalaman nyataKerja di bank sepuluh tahun bagian kredit, paham soal tabungan, cicilan, sama bunga.
Itu burnout, dan aku ngalamin persis pas WFH panjang, sampai akhirnya sadar batas antara kerja dan hidup lenyap total. Yang membantuku pulih pelan-pelan: 1) Bikin batas fisik dan waktu. Aku tetapkan jam mulai dan selesai kerja yang tegas, dan begitu selesai, laptop ditutup dan pindah ruangan. Kalau bisa, jangan kerja di kamar/kasur, karena otak jadi nggak bisa bedain mode kerja dan istirahat. 2) Ritual transisi. Dulu commute jadi jeda alami, sekarang aku ganti dengan jalan kaki keliling komplek 15 menit sebelum dan sesudah kerja, biar ada pemisah mental. 3) Paksa keluar rumah dan ketemu orang. Isolasi WFH itu diam-diam bikin hampa. Aku mulai kerja di kafe sesekali dan nongkrong sama teman. 4) Ambil cuti beneran, bukan cuti sambil pegang HP. Kalau setelah dicoba semua masih hampa, berat, sampai ganggu tidur dan minat pada semua hal, tolong pertimbangkan ngobrol sama psikolog. Sekarang banyak layanan konseling online yang terjangkau, dan BPJS pun mulai cover kesehatan jiwa di faskes tertentu. Kamu nggak lemah, kamu cuma kehabisan bensin, dan itu bisa diisi ulang.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Kalau memungkinkan, ngobrol jujur sama atasan soal beban kerja. Kadang burnout WFH karena ekspektasi selalu online dan kerjaan yang nggak realistis. Aku dulu diam terus tumbang, padahal pas akhirnya bilang, atasan mau redistribusi tugas. Jangan tunggu sampai ambruk baru ngomong. Kesehatanmu jauh lebih mahal dari deadline manapun.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Rasa hampa itu sering muncul karena kehilangan makna, bukan cuma capek fisik. Aku pernah gitu, kerjanya banyak tapi nggak tahu buat apa. Yang bantu: aku sengaja cari koneksi kecil dengan hasil kerjaku (ngobrol sama user/klien, lihat dampak nyata), dan aku hidupkan lagi hobi di luar kerja yang bikin aku merasa hidup. Kerja jangan jadi satu-satunya identitasmu. Cari satu hal di luar layar yang kamu nantikan tiap hari.
PPengusahaUMKM_WawanPemulaPengalaman nyataPunya UMKM makanan ringan, jatuh bangun bikin usaha, siap bagi tips buat pemula.
Cek juga hal fisik yang sering dianggap sepele: tidurmu cukup nggak, kena sinar matahari nggak, gerak badan nggak. WFH bikin aku dulu tidur berantakan, seharian nggak keluar kamar, nggak olahraga, dan itu memperparah kondisi mental. Begitu aku benerin rutinitas dasar (tidur jam teratur, jalan pagi, minum cukup), mood-nya kerasa beda banget. Kadang solusi mental dimulai dari badan.