P Prasetyo Pemula Pengalaman nyata
Dari pengalaman saya, batasan itu harus kita yang bangun sendiri, karena kalau nggak, orang akan terus menerabas. Yang saya lakukan bertahap dan halus. Untuk chat malam yang nggak darurat, saya balas keesokan paginya dengan sopan, 'Pagi Pak, soal yang semalam sudah saya kerjakan.' Lama-lama atasan belajar bahwa yang urgent beda dengan yang bisa nunggu. Bedakan mana yang benar-benar darurat, itu tetap saya respons. Tapi pertanyaan biasa jam 10 malam nggak wajib langsung dijawab. Kalau memang budaya kantornya toxic soal ini, coba sampaikan baik-baik saat ngobrol santai, bahwa kamu lebih fokus dan produktif kalau ada waktu istirahat. Sampaikan sebagai soal produktivitas, bukan keluhan. Menjaga kewarasan itu bagian dari profesionalisme jangka panjang.
L Lestari Pemula Pengalaman nyata
Saya dulu terjebak jadi orang yang selalu standby 24 jam dan ujungnya burnout parah. Belajar dari itu, saya sekarang tegas tapi tetap profesional. Saya kasih tahu ekspektasi realistis, misalnya di luar jam kerja saya nggak selalu pegang HP, jadi respons mungkin baru besok, kecuali benar-benar darurat. Awalnya deg-degan, ternyata atasan lebih paham daripada yang saya bayangkan, karena selama ini dia kirim chat cuma karena kepikiran, nggak benar-benar nuntut dibalas saat itu juga. Kalau atasanmu tipe yang benar-benar nggak bisa terima batasan wajar dan sering marah cuma karena chat malam nggak dibalas, itu tanda lingkungan kerja yang perlu kamu evaluasi jangka panjang. Kesehatan dan waktu pribadimu berharga, jangan dinormalisasi kerja tanpa batas.