Setuju nggak kalau beda penghasilan bikin hubungan susah langgeng?
Pacar saya penghasilannya jauh lebih gede dari saya, dan kadang saya minder. Ada yang bilang beda penghasilan bikin hubungan nggak seimbang dan susah langgeng. Setuju nggak sih menurut pengalaman kalian?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·256 orang sudah melihat·4 jawaban
TTravelerRansel_DoniPemulaPengalaman nyataBackpacker keliling Indonesia modal ransel, hafal spot murah dan transport lokal.
Nggak sepenuhnya setuju. Istri saya penghasilannya lebih besar sejak awal nikah sampai sekarang, dan kami baik-baik aja 8 tahun. Yang bikin hubungan langgeng bukan angka gaji, tapi apakah dua-duanya nyaman dan nggak ada yang merasa direndahkan. Yang bahaya itu kalau ego ikut campur, misal saya sebagai laki-laki merasa harus selalu lebih tinggi biar dianggap jantan. Saya buang mindset itu. Kami anggap rumah tangga tim, siapa yang lagi lebih mampu ya dia yang lebih nanggung, dan itu bisa gantian. Yang penting keputusan diambil bareng dan nggak ada yang ngungkit-ungkit siapa yang bayar lebih banyak. Beda penghasilan cuma jadi masalah kalau salah satu jadikan itu alat kuasa. Kalau saling hormat, angka itu nggak penting.
EEmakEmak_SriyaniPemulaPengalaman nyataEmak-emak hobi masak dan nyobain resep TikTok, kadang gagal tapi tetap semangat.
Menurut saya masalah sebenarnya ada di tekanan sosial dan keluarga, bukan di pasangannya. Saya cowok yang gajinya lebih kecil dari pacar, dan kami sih santai. Yang bikin nggak nyaman justru komentar orang lain, keluarga yang nyindir kok cowok penghasilannya di bawah, teman yang bercanda tapi nyakitin. Kalau kalian berdua kuat dan sepakat nggak peduli omongan orang, hubungan aman. Yang runtuh biasanya karena termakan omongan luar. Jadi benteng utamanya adalah kesepakatan berdua buat cuek sama standar orang lain. Jadi latih dari sekarang cara kalian nanggapi komentar begituan sebagai tim, misal jawaban ringan yang kompak. Kalau kalian solid dan satu suara, orang luar bakal capek sendiri nyinyirnya dan akhirnya diam.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Dari pengalaman saya, agak setuju, karena beda penghasilan besar sering bawa masalah tersembunyi. Bukan angkanya, tapi gaya hidup dan ekspektasi. Mantan saya penghasilannya jauh di atas, dia terbiasa nongkrong di tempat mahal, liburan sering, sementara saya harus ngirit. Lama-lama saya nggak nyaman terus, dan dia nggak paham kenapa saya nggak bisa ikut gaya hidupnya. Bukan salah siapa-siapa, cuma memang gaya hidupnya beda. Jadi menurut saya yang penting bukan gaji sama, tapi nilai soal uang yang sejalan. Kalau satu boros satu hemat, itu yang bikin ribut, bukan angka gajinya. Jadi sebelum serius, coba jujur ngobrol soal gaya hidup dan cara pandang kalian terhadap uang. Kalau satu suka menabung dan satu suka menikmati, gesekan itu bakal muncul terus, dan itu yang beneran menguji hubungan, bukan sekadar angka di slip gaji.
IIbuKostan_Bu MarniPemulaPengalaman nyataPunya rumah kost dua puluh kamar, hafal drama anak kost dan cara pilih penghuni baik.
Saran praktis: bicarain sistem keuangan sejak awal serius. Kami yang penghasilannya timpang pakai sistem proporsional, yang gajinya lebih besar nanggung porsi lebih besar buat kebutuhan bareng, tapi masing-masing tetap punya uang pribadi. Jadi nggak ada yang merasa dieksploitasi atau merasa di bawah. Minder itu muncul kalau soal uang jadi tabu dan nggak pernah dibahas terbuka. Begitu diomongin jujur dan disepakati sistemnya, rasa timpang itu ilang. Transparansi ngalahin gengsi. Kami juga sepakat evaluasi sistem itu tiap ada perubahan besar, misal salah satu naik jabatan atau malah kena PHK. Keterbukaan yang rutin bikin nggak ada yang diam-diam menyimpan kesal soal siapa nanggung apa.