Gimana rasanya jalanin LDR beda kota sampai akhirnya nikah?
Saya dan pacar beda kota, dia di Surabaya saya di Jakarta. Capek banget LDR-nya, sering berantem karena salah paham di chat. Buat yang berhasil LDR sampai nikah, gimana rasanya dan gimana kalian bertahan?
Penanya anonim·Ditanyakan pada 20 hari lalu·73 orang sudah melihat·4 jawaban
PPetShop_Mbak NisaPemulaPengalaman nyataBuka petshop dan penitipan hewan, paham rawat kucing anjing sampai vaksinnya.
Saya LDR Jakarta-Medan hampir 3 tahun sebelum akhirnya nikah, dan sekarang udah 5 tahun berumah tangga. Rasanya berat, nggak mau bohong. Yang paling susah adalah salah paham lewat teks, karena nada bicara hilang, satu kalimat bisa kebaca marah padahal nggak. Yang nyelametin kami adalah aturan: kalau ada yang ngganjel, telepon, jangan diselesaikan lewat chat. Kami juga bikin jadwal ketemu pasti, minimal sebulan sekali, dan punya target jelas kapan LDR-nya berakhir. LDR tanpa garis akhir itu yang bikin putus, karena nggak ada harapan. Kami juga jujur soal keuangan dan rencana, biar pas mutusin nikah nggak kaget. Kalau kalian punya tujuan yang sama dan komunikasi yang jujur, LDR bisa dilewati. Justru ngajarin kami percaya dan menghargai waktu bareng.
AAnalisSaham_FikriPemulaPengalaman nyataAnalis pasar modal, main saham dan reksadana, siap jelasin investasi buat pemula.
Hal yang jarang dibahas: biaya LDR itu nyata. Tiket pesawat atau kereta bolak-balik Jakarta-Surabaya sebulan sekali itu nguras kantong. Kami dulu sampai bikin tabungan bersama khusus buat tiket dan buat nikah nanti. Ngobrolin uang secara terbuka pas LDR itu penting, karena nanti pas nikah masalah keuangan yang paling sering bikin ribut. Jadi anggap LDR sebagai latihan ngatur uang dan komunikasi bareng. Kalau lulus fase ini, fondasi rumah tangga kalian udah kuat. Kami juga gantian yang berkunjung biar biaya dan capek di jalan nggak nimpa satu orang terus. Adil soal beban kecil kayak gini ternyata ngejaga hubungan tetap sehat dan nggak ada yang merasa berkorban sendirian.
Narasumber anonim PemulaPengalaman nyata
Sisi jujurnya, LDR saya gagal, jadi biar kamu punya gambaran seimbang. Kami LDR 2 tahun tapi nggak pernah ada kepastian kapan bakal barengan. Dia nggak mau pindah, saya nggak bisa pindah karena kerjaan. Lama-lama kami cuma jalanin karena udah kadung lama, bukan karena bahagia. Akhirnya sepakat pisah baik-baik. Pelajaran saya: LDR cuma sehat kalau ada rencana konkret buat berakhir, bukan sekadar bertahan. Kalau dua-duanya nggak ada yang mau ngalah soal lokasi, jujur aja itu tanda kalian punya prioritas beda. Nggak semua LDR harus dipaksa lanjut. Jadi kalau kamu lagi jalanin, tanya jujur ke diri sendiri apakah ada rencana konkret buat bersatu, atau cuma bertahan karena takut mengakhiri. LDR tanpa arah yang jelas itu melelahkan dua-duanya, dan kadang berpisah baik-baik lebih sehat daripada memaksa yang nggak jalan.
Tips praktis dari yang berhasil LDR 4 tahun. Jangan jadikan pacar satu-satunya sumber kebahagiaan. Pas LDR saya sibukin diri dengan hobi, teman, dan kerja, jadi nggak nempel terus nunggu balasan chat yang bikin cemas. Justru pas kami punya hidup masing-masing yang penuh, ketemunya lebih berkualitas dan nggak posesif. Kepercayaan itu dibangun dari konsistensi kecil, bukan dari ngecek lokasi terus-terusan. Cemburu berlebihan malah bikin LDR hancur lebih cepat. Sepakati juga aturan main soal komunikasi, misal kabar pas sampai rumah atau kalau bakal susah dihubungi. Bukan buat ngekang, tapi biar nggak ada yang cemas nebak-nebak, dan rasa aman itu yang bikin LDR tahan lama.